Minggu, 12 Desember 2010

^,^

thankz buat penulis,,,
semoga penulis bisa bangga,,karena banyak orang yang membaca karyanya,,


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><>

YANG PALING PENTING
Cerpen: Lan Fang

Di rumah. Hujan. Di teras. Duduk. Air jatuh satu-satu dari bibir genting. Menciprati lantai. Menggenangi rumput. Susul menyusul. Menjadi bunyi yang paling sepi.
Kamu suka musik klasik atau musik jazz?" tanyamu, seakan-akan itu adalah pertanyaan penting. Padahal, itu tidak penting. Karena aku punya pertanyaan lain yang lebih penting untukmu. "Kamu suka hujan waktu pagi hari atau sore hari?" Ini pertanyaan penting untukku. Tetapi aku tahu bahwa itu pertanyaan yang tidak penting menurutmu.
Karena kira-kira aku sudah tahu apa jawabanmu. "Hujan bikin becek, banjir, dan macet."
Tetapi apakah kau tahu kalau serakan hujan tampak berkilau di ujung lancipnya rerumputan? Aku ragu, kau tahu itu. Aku juga tidak merasa yakin kalau kau pernah mencium wangi cemara yang mengambang di udara sehabis dibasahi hujan. Jadi akulah yang menambang semerbak itu. Harum sunyi paling abadi. Ada di hati manusia yang sendiri.
Tidak ada kamu. Tidak tahu kamu sedang apa.
Mungkin benar bahwa kamu sedang berlatih memainkan musik klasik atau musik jazz. Tetapi aku tidak tahu bagaimana pastinya. Kemudian kamu berkata padaku "kamu memang tidak tahu kalau satu oktaf sebetulnya ada dua belas nada. Terdiri dari tujuh bilah putih. Dan lima bilah hitam. Ini penting! Bukan cuma delapan nada yang seperti kamu katakan. Tidak cuma do re mi fa sol la si do. Kamu tidak tahu."
Ya, aku memang tidak tahu. Seperti aku tidak tahu kenapa pikiranku gentayangan mencarimu. Padahal, aku tahu ada suara langit yang resah. Ada pesawat terbang menerjang hujan. Juga ada burung kecil yang nekat menerabas hujan. Aku tahu pesawat terbang dan burung kecil itu sedang saling bersaing. Pesawat terbang harus mendarat di landasannya. Burung kecil harus mencapai gerombolan cemara. Aku tahu keduanya sedang balapan menghindar dari basah. Tetapi aku tidak tahu yang mana dari mereka yang akan berhasil lebih dahulu. Seperti aku tidak tahu kamu sedang di mana.
Mungkin kamu sedang terjebak macet karena banjir. Maka kamu pasti sedang mengutuk hujan yang tidak berhenti sejak siang tadi. Karena hujan pasti membuat semua rencanamu tertunda. Sudah pasti semua rencana yang penting, menurutmu. Termasuk acaramu, latihan piano. Itu salah satu hal yang penting buatmu. Tetapi itu bukan acara penting untukku. Bagiku yang kulakukan sekarang juga penting. Duduk-duduk menonton hujan. Bukankah seharusnya kulakukan bersamamu? Tetapi kamu menganggapnya tidak penting.
"Ayo, cepat, habiskan baksomu. Sebentar lagi hujan. Nanti kamu kehujanan," katamu. Lagi-lagi aku tidak tahu, yang mana yang penting untukmu. Bakso, hujan, atau aku? Karena yang penting bagiku adalah waktu bersamamu. Tidak ada bakso, tidak mengapa. Kehujanan pun tak apa. Tetapi ada kamu. Ada kamu yang mendengarkan ceritaku tentang bakso. Tentang hujan. Tentang kamu.
Jadi ketika kau melempar aku begitu saja di halaman sebuah toko buku, aku tidak tahu kau kemudian menjadi apa. Apakah kamu menjadi pesawat terbang? Ataukah menjadi burung kecil? Apakah kamu sedang menuju landasan? Ataukah kamu justru sedang tergesa mencari cemara? Yang kelihatannya penting, walaupun aku tidak tahu apakah itu benar-benar penting adalah kau sedang terburu-buru. Mungkin sedang memburu. Atau sedang diburu.
Ah, itu sudah tidak penting lagi bagiku. Karena sudah hujan. Sudah angin. Sudah dingin. Sudah basah.
Masih di rumah. Masih hujan. Masih di teras. Masih duduk. Dan masih saja air jatuh satu-satu dari bibir genting. Juga masih menciprati lantai. Sudah pasti masih menggenangi rumput. Tentu masih susul-menyusul. Benar-benar masih menjadi bunyi yang paling sepi.
"Nanti aku ke rumahmu. Agak malam. Karena sekarang masih hujan. Masih banjir. Masih macet," katamu.
Kali ini kulakukan sesuatu yang penting menurutku. Kubuka pagar lebar-lebar. Agar nanti mobilmu bisa langsung masuk ke car port. Sehingga ketika kau turun dari mobil, kau tidak kehujanan. Tidak kena angin. Tidak dingin. Tidak basah.
Tetapi yang kulakukan ternyata tidak penting untukmu. Kau tetap memarkir mobilmu di jalanan. Di sisi luar pagar. Kamu turun, berlari kecil menembus rintik. Kamu kehujanan. Kamu kena angin. Kamu kedinginan. Kamu basah.
Sekian banyak kita bersisipan di antara yang penting dan tidak penting. Apakah sejenak ada suara hujan menyelinap di antara nada-nada musik klasik dan jazz yang kau mainkan? Sehingga aku tidak tahu, mana yang sungguhan penting dan mana yang tidak penting. Aku juga sudah tidak bisa membedakan irama hujan atau denting piano.
Akhirnya, sampai juga kita kepada satu kata sepakat. Secangkir coklat panas. Kau menyeruputnya. Dan aku bahagia melihat wajahmu mulai memerah. Tidak pias. Tidak pucat. Sudah hangat.
"Kamu suka musik klasik atau musik jazz?" kamu masih saja mengulang pertanyaan yang kamu anggap penting itu.
"Kamu suka hujan waktu pagi hari atau sore hari?" akhirnya kutanyakan juga pertanyaan yang kuanggap penting ini.
"Aku mau bikin lagu untukmu. Lagu tentang hujan," katamu tetapi bukan menjawab pertanyaanku.
"Lagu hujan adalah lagu yang paling aku suka," kurasa kata-kataku juga tidak menjawab pertanyaanmu.
Kemudian seperti biasa kamu berlalu. Tetap terburu-buru. Aku tidak tahu apakah kamu sedang memburu atau sedang diburu hujan. Itu sudah tidak penting lagi.
Tahukah kamu kalau aku ingin menyampaikan ada yang lebih penting?
Bila kamu memeluk hujan, itu aku. Bila kamu menyentuh dingin, itu aku. Bila kamu mencium angin, itu aku. Maka kamu adalah tanah yang begitu tabah menadah basah.
Kurasa ini paling penting!***

Rabu, 08 Desember 2010

^_^

thankz buat penulis,,,
semoga penulis bisa bangga,,karena banyak orang yang membaca karyanya,,


<><><><><><><><><><><><><><><><><><><>
Hujan Pagi
Cerpen: Dwicipta

SISA hujan pagi masih tersampir di pucuk-pucuk dedaunan dan batang-batang pepohonan, Sayangku. Aku terbangun dari tidur pendek, setelah mengetik hampir semalaman, ditemani bayangan-bayangan letih tanpa kesudahan dari wajahmu. Pertengahan April, genap dua tahun aku tinggal di rumah ini, tanpa dirimu. Seperti letaknya yang jauh dari perkampungan, terpencil dari segenap kebisingan, kutemukan rumah ini dan diriku seolah menyatu dalam persekutuan aneh antara dua makhluk yang sama-sama kesepian. Hanya ditemani persawahan membentang, ricik suara air sungai di sebelah timur rumah, dan kicau burung atau binatang malam. Apakah ini yang kaumaksudkan ketika kita masih tinggal di pusat kota dulu: hidup yang tak diricuhi apa pun kecuali suara-suara alam? Ah sayang, begitu lekas kau pergi, dan tak punya waktu menikmati ketenangan rumah ini bersamaku. Padahal, rumah ini kubangun karena kau menginginkannya, bukan untukku sendiri.

Dalam keheningan dan rasa ketakjuban pada apa yang menghampar di depanku, alangkah rindunya aku padamu. Hujan pagi seolah membawamu kembali sekarang. Lihatlah, matahari enggan keluar, nyaman di balik gumpalan awan tebal. Beberapa ekor burung yang berloncatan dari dahan ke dahan atau hinggap di reranting ringkih terbang dengan sayap gemetar menahan dingin. Haruskah aku bersyukur atau mengutuknya? Haruskah aku tak menerima jika kau tak akan kembali ke rumah ini? Sepi dan hawa dingin ini memaksaku kembali padamu, menyeret segala ingatanku tentangmu.

Kastil kecil nan rapuh

Di suatu senja yang berkilau jingga, dari loteng rumah kita di pusat kota, kau ingin melupakan segala deru dan amis kota. Tubuhmu melambai rapuh tertiup angin beracun, makin kurus oleh penyakit setan yang bersarang bertahun-tahun dan tak juga lekas tercerai darimu. Desis napasmu hilang oleh deru kendaraan. Jika saja kota ini bisa diheningkan sejenak, tentu akan kutangkap sengal itu, sisa waktu yang makin menipis dan mimpi-mimpi buruk yang akan menghantuiku menjalani setiap detik dan menit tanpamu suatu hari kelak. Namun kau berkeras, tak mau masuk dan membiarkan ringkih tulang dan dagingmu termakan angin.

"Aku ingin menikmati udara sore. Bukankah aku sudah memakai jaket? Udara ini tidak sejahat yang kaukira...," ujarmu tersenyum. Kau menoreh perih setiap kali tersenyum seperti itu. Dengan kedua bibir ditarik ke salah satu sudut mulut, mata beningmu yang memancarkan kepasrahan, dan tulang pipimu yang menangkap hasratku untuk memelukmu. Kita seperti dua burung elang yang beranjak pulang ke sarang setelah menghabiskan hari dalam tualang.

"Aku tak ingin kau lebih sakit lagi."

"Kata ayah aku memang kastil kecil nan rapuh sejak kecil. Dan rumah kita ini, yang terselip di pusat kota, juga menjadi kastil rapuh bagiku. Lihatlah, bangunan-bangunan besar dan angkuh itu seperti mengusir kita dan berharap kita lekas pergi. Bila malam hari, dari tempat ini aku melihat mereka seperti raksasa-raksasa jahat yang sedang mengawasi kita. Aku tak ingin menempatinya lagi. Kalau kau mau, kita bisa membangun rumah di pinggir sawah. Tapi tentu kau tak mau."

"Aku akan membuatkannya untukmu."

"Untuk apa? Toh kita tak punya anak. Alangkah inginnya aku punya momongan."

"Sudahlah, jangan ingat-ingat itu lagi. Nikmati apa yang ada sekarang. Kalau kita menuruti keinginan, tak akan ada habisnya."

Kau menatapku sembari melontarkan peluru-peluru itu ke jantungku: air mata yang meleleh pelan dan berharap jemari serta telapak tanganku menghapusnya. Bagaimana mungkin bidadari yang selalu punya kekuatan untuk menghidupkan segala impian mustahil dalam hidupku ini kubiarkan menangis? Apakah dunia memang sengaja menciptakan kau supaya aku mengutuk dan tak memercayai kehidupan ini? Tanpa suara, kau meraih kedua tanganku dan menciuminya seperti seorang ibu menemukan anak tunggalnya yang hilang, membawa gemetar tanganku ke seluruh raut mukamu, menjejaki segala keperihanmu dan usahaku menjauhkanmu dari segala rasa putus asa.

"Kau terlalu baik untukku. Dan tak mau menuntut lebih pada hidup yang kita jalani. Aku heran kenapa aku bisa menemukanmu di antara segala wajah-wajah culas di kota ini."

"Kau benar-benar ingin meninggalkan rumah ini?"

"Sudahlah, lupakan keinginanku yang terlalu mengada-ada itu."

Sisa badai kenangan

Jauh sebelum kita bersama, ibuku bermimpi melihat buah simalakama. Semula ia tak tahu kalau itu buah simalakama. Rupanya hitam, bentuknya seperti buah manggis dengan tangkai berwarna merah. Di dalam buah itu terdapat lima ruangan berisi biji yang dibalut bagian empuk yang bisa dimakan. Pohon dari buah itu tumbuh di depan rumahku, dengan bentuk daun seperti daun mangga kecuali pohonnya yang tingginya tak lebih dari tiga meter. Seorang perempuan berwajah putih dengan mata bersinar bak mutiara menunggui pohon dan buah itu. Ketika ibu akan memetik buah itu, perempuan penunggu buah simalakama itu melarangnya.

"Kenapa aku tak boleh memetiknya?"

"Bukan kau yang berhak memetiknya."

"Apa nama buah ini?"

"Simalakama."

"Ah, kau mengibul. Tak ada buah simalakama. Buah itu hanya dongeng saja, tak ada buah simalakama di dunia ini."

"Sekarang kau melihatnya. Inilah buah simalakama itu."

Ibu mengamati buah itu sampai tiba-tiba ia mendengar suaraku berteriak dari belakangnya.

"Siapa perempuan ini Ibu? Alangkah cantiknya. Aku ingin matanya yang cemerlang itu Ibu. Seperti menyimpan cahaya."

Perempuan itu memandangku lekat-lekat, dan kemudian tersenyum. Tangannya seolah memanjang dan mengambil salah satu buah dari pohon itu lalu mengangsurkannya padaku.

"Kau mau buah ini? Ibumu tak boleh makan, hanya kau yang boleh memakannya."

Ibu melarangku menerimanya, namun dipenuhi rasa ingin tahu, tanpa memedulikan larangannya tanganku sudah menggenggam buah itu.

"Bukalah, dan lihat isinya."

Aku membukanya, dan melihat lima bulatan putih dalam lima ruangan terpisah oleh sekat buah itu. Segera kumakan buah itu, sementara kulihat ibuku menangis dan perempuan itu tersenyum sangat lembut.

"Nah, kau sudah memakannya. Enak bukan?"

"Rasanya manis tapi agak aneh."

Perempuan bermata bak mutiara yang menjaga pohon simalakama itu memandang kami berdua, lalu berkata pada ibuku.

"Ia telah memakannya. Suka atau tidak suka ia akan menanggung segala akibatnya."

Begitu berkata seperti itu ibu terbangun dari mimpinya. Ia memeluk tubuhku yang persis tergolek di sampingnya erat-erat. Sejak saat itulah ibu seperti malaikat yang selalu menjagaku dari tangan-tangan jahat yang ingin menghancurkanku. Sampai kemudian kau datang dalam hidupku. Malaikat yang menjagaku siang dan malam itu tiba-tiba seperti kehilangan segala kekuatannya.

Ulah para ahli nujum

Kita bertemu oleh waktu yang memepat di sebuah titik yang tak pernah terduga sebelumnya. Bagaimana kita bisa menduganya kalau semua telah digariskan bukan oleh kita sendiri, melainkan oleh para aktor-aktor ganjil tak semestinya bersekutu mempertemukan kita? Pertama adalah ruang perpustakaan, tempat aku menghabiskan sebagian besar waktu hidupku. Sejak kecil ibu telah memanjakan aku dengan sebuah ruangan berukuran delapan kali sepuluh meter di rumah kami yang luas, memenuhinya dengan deretan rak dan buku-buku yang tertata bukan berdasarkan katalog seperti yang biasanya berlaku di perpustakaan umum namun berdasarkan nama pengarangnya. Di ruangan itulah, selepas waktu bermain bersama teman-teman masa kecil, aku menemukan sebuah lapis kehidupan yang lain, dunia yang menciptakan kejutan demi kejutan.

Pada suatu hari, selepas masa sekolah menengah, ayah berharap aku masuk fakultas kedokteran, namun kekagumanku yang berlebihan pada senyawa-senyawa kimia membuatku lebih memilih ilmu kimia. Oleh hasrat hatinya yang tak tercapai, ayah bersumpah tak mau membiayai kuliahku, sedangkan ibu, dengan gaya bertarung seekor singa betina yang anggun, mati-matian membelaku. Rasa sayangnya seperti menguatkan nujum atas mimpinya di masa kecilku. Namun di kemudian hari, kuketahui pilihan salah belajar di jurusan itu. Dua tahun aku berusaha mencintai senyawa-senyawa kimia yang semula memukauku itu, namun ingatanku pada perpustakaan di rumah kami membuatku berontak dan mengkhianati pilihanku sendiri. Bukan laboratorium yang kucintai ternyata, namun aroma buku-buku lama di perpustakaan dan lapis-lapis kehidupan yang ada di tiap lembar buku.

Tanpa memberi tahu ibu dan ayah, aku memutuskan pindah kuliah di kota yang berbeda dan kembali ke rumah lama nan temaram namun menyenangkan: perpustakaan. Ayahku semakin murka, dan tak mau mengakuiku sebagai anak. Dan ibu, tetap sebagai seekor singa betina yang anggun terus membelaku meskipun dengan tenaga yang makin melemah. Keyakinanku kembali ke rumah yang temaram itu datang di tahun kedua kuliahku di jurusan sastra saat tanpa sengaja kutemukan sebuah novel Jack London, White Fang yang dulu kubaca ketika masih berusia sepuluh tahun. Dan pada hari aku membaca Penderitaan Pemuda Werther, tanpa sengaja kutemukan dirimu di sudut ruang perpustakaan Universitas, sedang menggenggam Victoria.

Saat itulah waktu memepat, dan dunia seperti membuncahkan segala rahasianya di depan kita, Sayangku. Kau, dengan matamu di balik lensa kaca mata menelan semua impian yang telah kusemai. Rambut ikalmu yang berwarna agak keemasan jatuh di dahi, lalu bibirmu tersenyum simpul melihatku bagai berhenti menahan napas. Aku tidak tahu jika saat itu aku masuk ke wilayah paling runyam dalam hidupku.

Melewati jembatan api

Apa yang salah dari hidup kita sebenarnya? Bukankah semestinya cinta tak dihalangi oleh apa pun? Dua tahun setelah kau pergi, aku memikirkannya tanpa henti. Kita tak menyangka telah berani menentang badai dengan memasuki ketidakmenentuan demi ketidakmenentuan. Sadarlah aku, melemahnya kekuatan singa betina yang merasuk dalam tubuh ibuku digantikan oleh kehadiranmu. Kau selalu bilang semenjak kita merekatkan hati satu sama lain di ruang perpustakaan bahwa kita akan melewati jembatan api.

"Tapi aku tak mau menjadi Victoria. Kalaupun aku mati, aku akan mati setelah mewujudkan seluruh impian dan cintaku," katamu dengan mata menerawang.

Perlahan-lahan ucapanmu menemukan kenyataan-kenyataan ganjilnya. Ancaman kedua orang tuamu hanya kau lewatkan seperti sebuah arus sungai besar yang tak bisa dibendung hanya oleh tanggul tipis dan rentan. Aku memberesi seluruh barang-barang dari rumahmu, diikuti sumpah serapah dari ayahmu dan tangisan ibumu. Alangkah menyedihkannya menikahimu tanpa kedua orang tuamu dan ayahku. Tapi apakah yang lebih agung dari cinta kita ini? Seperti sihir paling memilukan, hanya ibuku yang merestui pernikahan kita.

Tahun kedua pernikahan kau masih tampak sehat, namun belum juga kau mengandung. Semula kupikir badai akan segera berlalu. Tapi tidak, selepas tahun kedua, kau divonis tak bisa mengandung karena rahimmu dihuni kista. Ah Sayangku, aku masih teringat senyummu menghadapi vonis itu, juga air matamu yang luruh sembari menyembunyikan wajah di balik dadaku. Bertahun-tahun kemudian, oleh derita dan nestapa itu, penyakit demi penyakit menghampirimu.

Hidup di sebuah negeri yang mustahil seperti negeri kita, tempat ujung pena penulis dipandang sama berbahayanya dengan sebuah senapan, akhirnya mengantarkan aku ke dalam penjara. Sebuah buku yang kutulis, karena dianggap menghina sebuah agama, hanya mengantarkan kegetiran paling meletihkanmu. Aku menjalani kehidupan dalam ruang sempit dan pengap, sedangkan kau harus menghadapi teror demi teror yang dilontarkan orang-orang tak dikenal dari depan rumah kita. Kau tak mengira jika setelah melewati jembatan api bersamamu, kita akan melewati neraka demi neraka kehidupan kita di dunia.

Kehancuran kastil kecil nan rapuh.

Akhirnya saat itu tiba. Aku keluar dari penjara dan kembali ke rumah kita. Kau memelukku erat, seolah-olah mengisyaratkan perpisahan panjang. Kau membenci deru kehidupan kota dan udara amisnya yang beracun. Kau ingin menciptakan akhir yang damai bagi hidupmu dengan menatap persawahan dan mendengar cericit burung serta binatang malam. Dan akhir itu datang dua tahun lalu, ketika kastil kecil nan rapuh itu-–tubuhmu--rubuh dalam pembaringan yang hingga kini masih menyisakan aroma tubuhmu.

Tinggallah aku di sini, menghisap aroma kenangan yang membuar dahsyat. Ah sayangku, dua tahun sudah aku tinggal di sini tanpamu. Setiap malam kuhabiskan waktuku dengan mengetik tanpa henti. Setiap kelelahan mendera, kau seolah mengelus dan memelukku dari belakang.***

Cermin Jiwa,,

thankz buat penulis,,,
semoga penulis bisa bangga,,karena banyak orang yang membaca karyanya,,
^_^


Kompas
Minggu, 13 Mei 2007

Cermin Jiwa
Cerpen: S Prasetyo Utomo


Wajah Ulfa jernih, tenang, dan penuh percaya diri. Sepasang lengkung alisnya serupa mantra. Menenteramkan siapa pun yang menatapnya. Ia keluar dari rumah kayu. Menampakkan sosok samar di kebun anggrek. Hangat matahari menyingkap kabut di rambutnya. Dari celah-celah bunga anggrek, ia menatapi Ismail, lelaki muda di seberang jalan. Lelaki itu menyusuri kesunyian ke kantor. Sepasang kupu-kupu mengitari kepalanya. Cahaya matanya serupa cermin jiwa: memantulkan hangat semesta yang membuka cakrawala Ulfa.

Di kebun anggrek itu Ulfa memantulkan kesegaran bunga-bunga mekar. Gadis itu sengaja berada di kebun anggrek. Ia bisa mencium aroma asap jerami dibakar. Menghirup bau tanah basah sawah sehabis dibajak. Mencuri pandang pada Ismail, lelaki kurus, dengan hidung mencuat, bibir tipis dan jarang berbincang. Ketampanan lelaki itu terselubung sepi. Tinggal di rumah kayu yang luas dan terpelihara, lelaki kurus itu terlambat menikah. Ulfa selalu menatap matanya yang memantulkan keteduhan tanah yang ditumbuhi rumput, perdu, dan bunga-bunga liar.

Tatapan Ulfa pada Ismail sering kali dilakukannya dengan diam-diam, menakik rasa gundah yang nyeri di hati. Ismail seperti hidup sendirian, setelah ibunya meninggalkannya, pergi begitu saja, pada umurnya yang sepuluh tahun. Ulfa selalu memandangi lelaki itu sejak kecil. Lelaki itu terus saja bekerja, mengaji ke surau, tanpa senyum, tanpa berbincang-bincang.

Ayah Ismail sungguh aneh. Lelaki tua itu selalu keluyuran malam. Rambutnya memutih seluruhnya. Separuh wajah bagian kanan, menghitam arang memendam bara. Ia selalu bepergian tiap malam, mencari lawan berjudi, dan kata orang, sesekali mencuri sarang burung walet di tebing terjal pantai. Ia merambati tebing-tebing karang selengket cicak. Lewat larut malam ia pulang. Mabuk. Meracau. Teriak-teriak. Lantang. Menembus kabut dini hari.

Lambat laun Ulfa mulai paham, dan ia takjub, melihat Ismail tumbuh dengan dirinya sendiri, di rumah kayu yang luas, peninggalan kakeknya.

Pada gerimis yang rapuh, menjelang senja, burung-burung sriti menghambur di atas pohon randu alas, di belakang surau. Bercericit gaduh. Ayah Ismail mengetuk pintu rumah Ulfa, teratur dan sopan. Suaranya berat dan patah-patah. Ulfa berlarian membukakan pintu. Meminta lelaki berambut putih itu duduk di ruang tamu. Gugup.

"Tolong panggilkan ayah dan ibumu," pinta ayah Ismail. Sungguh gemetar Ulfa memandangi ayah Ismail. Tatapan lelaki tua itu liar, beringas, dan menyerang.

Abah Lutfi, ayah Ulfa, tersenyum tenang.

"Aku ingin bicara juga dengan istrimu," kata ayah Ismail, dengan permohonan yang lembut. Tapi Umi, ibu Ulfa, menahan rasa takut, getar dalam dada. Guncangan tertahan itu diredakannya.

"Begini, Abah Lutfi. Saya datang sore ini untuk meminang Ulfa bagi Ismail. Saya sudah tua, tak bisa memberikan apa pun bagi anak saya itu, kecuali mencarikannya jodoh."

Terdiam. Lama. Belahan wajah hitam ayah Ismail seperti bara terhembus angin. Lelaki tua itu mengambil napas, dan meredakan rasa murka. Dipandanginya Abah Lutfi yang tersenyum.

"Aku serahkan pinangan ini pada Ulfa," sahut Abah Lutfi, teduh dan lembut.

Buru-buru Umi menyambut. "Aku minta waktu agar anak gadisku cukup matang."

Lelaki berambut memutih dengan belahan wajah hitam itu tampak teduh dan tenteram. Memandangi Abah Lutfi dan Umi, bergantian, mencari kepastian. Tiap saat ia menatap wajah Abah Lutfi yang tersenyum, bara dalam belahan wajahnya padam. Tiap saat ia menatap wajah Umi yang menegang, bara dalam belahan wajahnya menyala. Terhenti ia pada segaris senyum Abah Lutfi, yang tulus, dan tak dibuat-buat. Lelaki tua itu menunduk. Terus tersenyum.

Ayah Ismail berdiam diri. Memandangi lagi Abah Lutfi. Mencari keyakinan. Ayah Ismail mengangguk-angguk. Bangkit. Mohon diri. Mengulurkan tangan. Menyalami Abah Lutfi. Berpamitan. Bukan sekadar bersalaman. Ayah Ismail mencium tangan Abah Lutfi. Tertetes sepercik air mata di punggung tangan Abah Lutfi.

Burung-burung sriti tak lagi gaduh bercericit. Hinggap di dahan pohon randu alas. Seketika sepi, seketika pekat merambat.

Di surau, di belakang rumah kayu Abah Lutfi, samar terdengar suara anak-anak mengaji. Abah Lutfi berdiam diri di meja makan. Menelantarkan pepes ikan mas kesukaannya. Tak berselera. Dipandanginya Ulfa dan Umi bergantian, kehilangan suara.

Telah mengering sepercik air mata di punggung tangan Abah Lutfi. Tapi tangan itu tak segera dicucinya. Tak digerakkannya untuk menuang nasi dalam piring. Tak melahap pepes ikan mas. Terdiam. Menampakkan rautan renungan dalam wajahnya, terutama di sekitar mata.

"Apa yang Abah risaukan?" tegur Ulfa, pelan, teduh.

"Bagaimana aku menampik lamaran ayah Ismail?"

"Kenapa mesti ditampik?"

Terbatuk, Abah Lutfi menukas, "Kau menerimanya?"

"Kalau Abah amati sisi wajah ayah Ismail yang bersih, tentu tak perlu bimbang macam ini."

"Kau menerima Ismail?"

"Saya hanya meminta Abah melihat sisi terang pada wajah ayah Ismail."

"Ho-ho, kau selalu begitu!"

Seketika, tersenyum dan cairlah rautan renungan dalam wajah Abah Lutfi. Lelaki itu mengambil nasi, makan dengan lahap. Pepes ikan mas itu tinggal duri-duri. Pada bagian kepala ikan pun dicecapnya. Terserak remah-remah tulang belulang dan duri ikan di piring. Tak ada lagi percakapan. Terdengar sendawa Abah Lutfi. Berkali-kali.

Sesuatu yang tak lazim, Ismail memandang ayahnya bersarung, berpeci, dan buru-buru melangkah ke surau Abah Lutfi menjelang magrib. Belum pernah Ismail melihat wajah ayahnya sebening itu. Belahan wajah menghitam itu tak lagi membara. Belahan wajah itu seteduh lumpur sawah musim tanam padi.

Malam hari ayah Ismail memasuki rumah, pelan-pelan, diam-diam, tanpa suara. Duduk di ruang tengah. Terbatuk. Menghirup kopi. Merokok. Termenung. Sesekali mencuri-curi pandang ke arah anak lelakinya.

"Telah kulamar Ulfa untukmu," kata ayah Ismail, berat, dan menunduk. Tak tampak kerisauan pada wajah Ismail. Tetap tenang. Melakukan segala hal sendirian. Diam-diam.

Melihat ayah Ismail bergegas ke surau, Umi cemberut. Sesekali ia mengerling ke arah lelaki tua itu. Tiap kali dilihatnya belahan hitam wajah lelaki itu, Umi?tanpa disadarinya?bergidik. Buru-buru ia meninggalkan surau. Tak dilihatnya dalam kelam puncak pohon randu alas, cericit burung-burung sriti beterbangan. Sesaat. Kembali sunyi.

Tiap kali datang orang baru ke surau, Umi selalu menyambut dengan mata bercahaya. Kali ini lain. Dadanya berdegup. Meletup-letup. Tak bisa dibayangkannya, Ulfa, anak gadisnya, hidup serumah dengan lelaki beringas, yang selalu membawa ceracau mabuk dan murka ke rumah.

"Ayah Ismail itu, uh, mengapa selalu datang ke surau?" gerutu Umi.

"Mestinya Umi merasa senang. Dia datang ke surau kita. Bukannya mabuk," tukas Ulfa, mencengangkan.

"Dia berbuat begitu lantaran ingin meminangmu."

"Ini lebih baik, daripada dia keluyuran malam, dan mencuri sarang burung walet."

Subuh keempat puluh ayah Ismail berkunjung ke surau Abah Lutfi. Tak seorang pun menatap langit di atas pohon randu alas, di belakang surau. Burung-burung sriti berkitar-kitar, bercericit, hinggap-terbang, hinggap dan terbang lagi di pohon randu alas itu. Langit masih gelap, dan burung-burung sriti itu luput dari perhatian orang-orang yang bergegas ke surau.

Tak sekali pun ayah Ismail bertanya kepada Abah Lutfi mengenai pernikahan anak lelakinya dengan Ulfa. Dalam diam bersimpuh, dia biasa terisak-isak, dengan mata terpejam memanjatkan doa. Tatkala orang-orang sudah meninggalkan surau, dia masih bersimpuh sendirian. Lama, hingga matahari berkilau menghangati hamparan tikar surau. Lelaki tua itu beringsut, pelan, bangkit.

Kali ini, dalam dingin kabut dini hari, ayah Ismail telah menyempurnakan ketenteraman wajahnya dari pergolakan. Belahan hitam wajahnya tak menyeramkan, serupa lumpur sawah yang digenangi air: rata, datar, menyimpan anugerah alam. Orang-orang di surau mulai menerima kehadiran lelaki tua itu. Tak lagi menatap dengan selidik dan tatapan curiga.

Di tengah-tengah suara orang berdoa, sehabis shalat subuh, ayah Ismail tak dapat menahan tubuh. Tersungkur. Tiada lagi napas mengembus dari hidungnya. Ia rebah dengan tangan masih menggenggam tasbih. Tubuhnya terjerembap. Tidak menggelepar. Tidak berkelejatan. Tubuh itu terburu, kehilangan napas pelan-pelan, di antara orang- orang yang bersimpuh doa. Mula-mula orang-orang tak menduga lelaki tua itu direnggut ajal. Tapi kemudian orang-orang terperanjat, gugup dan memekik tertahan.

Kini orang-orang mulai melihat cericit burung-burung sriti yang tak terhitung banyaknya, berkitar-kitar terbang di puncak pohon randu alas, di belakang surau Abah Lufti. Dalam sekejap, sangat cepat, burung-burung sriti itu hinggap di dahan dan ranting pohon randu alas. Tak lagi mengepakkan sayap. Tak lagi bercericit gaduh.

Sepasang kupu-kupu kuning terbang di atas kepala Ismail. Ulfa sangat gemas, ingin menangkap sepasang kupu-kupu itu. Selalu dilihatnya tiap pagi, diam-diam di kebun anggrek yang menyembunyikan wajah dan tubuhnya, kupu-kupu di atas kepala Ismail. Lelaki itu berangkat ke kantor. Berjalan kaki. Selalu berjalan kaki ke mana pun pergi. Dan sepasang kupu-kupu itu mengantarkannya menyusuri jalan berumput pada pagi berkabut, saat embun meraup tersengat matahari.

Abah Lufti diam-diam memperhatikan perilaku anak gadisnya. Sambil minum teh, menghisap pipa rokok, saat matahari menghangat, dia menemukan anak gadisnya turun ke kebun anggrek samping rumah, hanya untuk melihat Ismail. meninggalkan rumah, berjalan kaki, diiringi kupu-kupu. Mengapa sepasang kupu-kupu? Dalam jarak yang begitu jauh, sepasang kupu-kupu itu terus mengitari kepala Ismail.

Kepergok Abah Lutfi memasuki rumah, Ulfa tersipu-sipu. Terhenti. Menanti teguran.

"Apa Abah mesti menegur Ismail, bagaimana kelanjutan lamaran ayahnya dulu?"

"Biar Ismail sendiri yang menentukan," tukas Ulfa tenang. "Abah jangan salah sangka. Aku cuma suka memandangi sepasang matanya. Sungguh aneh mata itu, selalu memancarkan alam yang lembut dan tanpa dendam. Aku suka memandanginya."

Pandana Merdeka, Februari 2007

Kamis, 02 September 2010

sedikit cerita nie

Misteri Haikal Sulaiman
Pada abad 17 SM orang-orang Bani Israel ditimpa kelaparan dan kekeringan sehingga mereka bersama dengan Ya'qub berhijrah dari Palestina ke Mesir menemui Yusuf as yang saat itu menjadi mentri di pemerintahan Fir'aun.
Pada abad 14 - 13 SM Allah Subhanahu wa Ta'ala mengutus Musa as kepada mereka dan sedikit dari mereka yang tidak mengimaninya dan di sinilah dimulai agama Yahudi sehingga menjadikan mereka bertentangan dengan Fir'aun dan kaumnya. Peretentangan itu mejadikan orang-orang Bani Israel keluar dari Mesir, sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta'ala :
وَإِذْ نَجَّيْنَاكُم مِّنْ آلِ فِرْعَوْنَ يَسُومُونَكُمْ سُوَءَ الْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَاءكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَاءكُمْ وَفِي ذَلِكُم بَلاء مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌ
وَإِذْ فَرَقْنَا بِكُمُ الْبَحْرَ فَأَنجَيْنَاكُمْ وَأَغْرَقْنَا آلَ فِرْعَوْنَ وَأَنتُمْ تَنظُرُونَ
Artinya : "Dan (Ingatlah) ketika kami selamatkan kamu dari (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya; mereka menimpakan kepadamu siksaan yang seberat-beratnya, mereka menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang perempuan. dan pada yang demikian itu terdapat cobaan-cobaan yang besar dari Tuhanmu. Dan (ingatlah), ketika kami belah laut untukmu, lalu kami selamatkan kamu dan kami tenggelamkan (Fir'aun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan." (QS. Al Baqarah 2:49-50)
Hijrah tersebut terjadi pada abad 1280 SM pada masa pemerintahan Ramses II. Setelah itu mereka (orang-orang Yahudi) berada dibawah pimpinan Yusa' yang menggantikan Musa as dan menetap di Kan'an (Palestina)
Daud as berhasil mendirikan pemerintahannya di Yerusalem pada tahun 990 SM dan disinilah Daud mendapatkan perintah untuk membangun Baitul Maqdis akan tetapi dikarenakan kesibukannya berperang maka itu semua tidak sempat dilakukannya sehingga Allah Subhanahu wa Ta'ala mewahyukan kepadanya agar memerintahkan anaknya yang bernama Sulaiman as untuk membangun Baitul Maqdis dan ditengah pembangunannya itu beliau as membangun Haekal sebagai tempat peribadahan lengkap dengan altar penyembelihan kurbannya.
Setelah Sulaiman as wafat pada tahun 922 SM, pemerintahan Daud terpecah menjadi dua: kerajaan Isarel di sebelah utara dan kerajaan Yahudza di sebelah selatan. Diantara keduanya sering terlibat peperangan panjang hingga masa mereka dihancurkan oleh Bukhtanshar Raja Babilonia pada tahun 587 SM. Pada penyerangan ini terjadi penghancuran terhadap Yerusalem termasuk terhadap Haekal Sulaiman.
Mereka berhasil menawan dan membawa banyak orang-orang Yahudi ke Babilonia dan menetap di sana selama 50 tahun yang dikenal dalam sejarah Yahudi dengan Para Tawanan Orang-orang Babilonia.
Ketika Babilonia berhasil ditaklukan oleh Kirusy Raja Parsia pada tahun 538 SM maka para tawanan tersebut dibebaskan dan dikembalikan ke Palestina akan tetapi mereka tidak memiliki Negara namun tetap berada dibawah kekuasaan Parsia.
Didalam Majallah at Tarikh al Arabi disebutkan bahwa setelah orang-orang Bani Israel dipulangkan kembali ke kampung halamannya di Palestina maka mereka membangun kembali tempat peribadahan mereka yang telah dihancurka oleh Bukhtanshar.
Ketika gemintang Persia telah redup maka kekuasaan mereka pun jatuh ketangan Aleksander Al Maqduni sehingga orang-orang Yahudi menampakkan loayalitas, ketundukan dan penyambutan mereka kepada Aleksander al Maqduni tatkala menguasai Yerusalem tahun 332 SM. Dan sejak saati itu mereka berada dibawah kekuasaan Yunani.
Setelah Aleksander al Maqduni wafat maka kekuasaannya terpecah diantara mereka, Mesir berada di tangan Ptolomeus sedangkan Negara-negara utara diserahkan ketangan Selecus. Namun pada tahun 199 SM terjadi peperangan antara Ptolomeus dan Selecus yang kemudian dimenangkan Ptolomeus..
Pada tahun 198 SM Yerusalem jatuh ketangan Raja Suria yang bernama Antiochus dan sejak saat itu terjadi berbagai fitnah, pemberontakan dan peperangan berdarah di Yeusalem hingga masa kedatangan pemimpin Romawi yang bernama Pompy tahun 63 SM yang kemudian berhasil menguasai Yerusalem.
Sejak saat itu Yerusalem berada ditangan kekuasaan orang-orang Romawi dan menjadikannya sebagai Negara Romawi. Pada saat inilah Isa bin Maryam dilahirkan di kota Betlehem di akhir pemerintahan Herodes pada tahun 37 - 40 M.
Dan sejak saat itu Yerusalem menjadi tempat yang memberikan kabar gembira tentang da'wah tauhid dan menjadi kota suci bagi orang-orang Nashrani.
Ketika orang-orang Yahudi melakukan pembangkangan dan pemberontakan terhadap pemerintahan Romawi di Yerusalem maka Penguasa Romawi, Fasbasyan mengutus anaknya yang bernama Titus untuk menghentikan pemberontakan tersebut. Titus pun melakukan penyerangan terhadap Yerusalem pada tahun 70 M dan berhasil membunuh banyak orang-orang Yahudi sehingga menyisakan Yerusalem menjadi kota yang hancur lebur dan porak poranda untuk waktu yang sangat panjang bahkan tidak dihuni kecuali oleh para penjaga dari para tentara Romawi.
Kemudian orang-orang Yahudi mengadakan pemberontakan untuk yang kedua kalinya di Yerusalem antara tahun 132 M dan 135 M yang dikenal dengan "Pemberontakan Barkukhi" akan tetapi penguasa Romawi berhasil memadamkan pemberontakan tersebut dan menghapus Eksistensi Yerusalem dan membangun diatasmya sebuah kota baru yang dinamakan dengan Aeilia Capitolina. Bahkan mereka tidak mengidzinkan orang-orang Yahudi untuk menginjakkan kakinya di kota Aeilia sejak tahun 135 M.
Ketika Pemerintahan Romawi terpecah menjadi dua dan Palestina masuk dalam kekuasaan Romawi Timur (Bizantyum) maka Aeilia berada dibawah kekuasaan Bizantyum sejak abad 4 M hingga tahun 614 M tatkala dikuasai oleh Sasani (Kisra Eberwiz) hingga kembali dikuasai oleh Penguasa Bizantyum yang bernama Heraklius tahun 627 M.
Kekuasaan Heraklius ini tidaklah berlangsung lama sehingga kaum muslimin berhasil membebaskan kota Aeilia pada tahun 15 H / 636 M pada zaman Umar bin Khattab dan sejak saat itu kaum muslimin memperbolehkan orang-orang Yahudi untuk kembali ke al Quds. (Majallah at Tarikh al Arabi juz I hal 5114 - 5126)
Dari penuturan diatas tampaklah bahwa Haekal tersebut didirikan pada masa Sulaiman as. Dan setelah sempurna pembangunan Haekal tersebut oleh Sulaiman as, ia mengalami kehancuran sebanyak tiga kali, yaitu ketika penyerbuan pasukan Bukhtanshar Raja Babilonia pada tahun 587 SM lalu berhasil dibangun kembali oleh orang-orang Yahudi setelah mereka dibebaskan oleh Kirusy Raja Parsia.
Haekal kembali dihancurkan untuk kedua kalinya oleh Antiochus Raja Suria tatkala upayanya memadamkan fitnah yang dilakukan orang-orang Yahudi pada tahun 198 SM. Lalu kembali direnovasi untuk ketiga kalinya oleh Herodeus pada tahun 40 M.
Lagi-lagi Haekal dihancurkan oleh Titus pemimpin Romawi tatkala menyerang Yerusalem dan menjadikan kota itu hancur lebur bahkan tidak didiami kecuali oleh para penjaganya dari tentara-tentara Romawi.
Adapun tentang letak Haekal itu sendiri, sesungguhnya tidaklah terdapat dalil yang menunjukkan tempat didirikannya bangunan itu. Beberapa sumber menyebutkan bahwa bangunan itu terletak diluar pekarangan Masjidil Aqsha sementara yang lainnya menyebutkan bahwa tempatnya adalah dibawa Kubah Kuning. Sementara itu orang-orang Yahudi dan Nashrani berkeyakinan bahwa tempat Haekal Sulaiman itu berada di Puncak al Haekal atau al Haram asy Syarif atau berada di bawah Baitul Maqdis. Karena itulah orang-orang Yahudi sejak beberapa tahun terakhir ini berusaha merobohkan Masjidil Aqsha untuk mencari Haekal Sulaiman dibawahnya. (http://ar.wikipedia.org)
Akan tetapi itu semua hanyalah akal-akalan yang dicari-cari oleh orang-oang Yahudi saja untuk menghancurkan al Quds dengan mengatakan bahwa mereka akan mengembalikan Haekal Sulaiman kepangkuan mereka.
Sebagaimana disebutkan didalam berbagai sejarah kota Yerusalem maka sebetulnya Haekal tersebut sudah betul-betul hancur dan porak poranda tak berbekas saat terjadi penyerangan yang dilakukan oleh Pasukan Romawi dibawah pimpinan Titus pada tahun 70 M. sebelum pada akhirnya Yerusalem berhasil dibebaskan oleh kaum muslimin pada masa pemerintahan Khalifah Umar bin Khattab pada tahun 15 H / 636 M.
Wallahu A'lam